Perkenalkan kawan namaku Tamin, aku duduk di kelas 1 SMP di ujung Desa pelosok negeri. Aku tinggal di Desa Makmur, desaku tak seperti namanya yang makmur maklum disini belum ada aliran listrik, signal telepon maupun akses jalan. Penerangan malam di Desa Tamin hanyalah obor, bagi yang mampu seperti rumah Pak Kepala Desa bisa membeli tenaga surya itupun hanya untuk tiga buah lampu rumah. Transportasi ke desa Tamin terhitung berat bagi penduduk Desa maupun pendatang, hanya dua truk pasir yang mampu menembus belantara lumpur nan becek dan motor yang sudah dimodifikasi bannya memakai rantai khusus. Desa Tamin memang tak semaju desa lain, tapi kenangan indah bersama Abah, Mak, kakak dan teman-teman kampung tak mudah aku lupakan. Tamin dijuluki teman-teman sekolah si remaja Desa daratan tandus, julukan itu kadang menyakitkan. “ahhh…lama-lama terbiasa juga, tak perlu aku pikirkan toh julukan itu tak meleset dari kenyataan” Gerutuku dalam hati. Julukanku bermula dari desaku yang dikelilingi pegunungan kapur cadas yang sulit ditanami sayur dan padi karena tidak bisa tumbuh subur. “Tak apalah menurutku biar temanku mau bilang apa” Kataku dalam hati kecil. Desaku memang belum berkembang seperti desa-desa lain disekelilingnya, maklum Kecamatan tempat desa Tamin berada aja masih baru pemekaran, jadi belum tersentuh pembangunan.
Kata teman di sekolah, aku ini terhitung pendek bila dibandingkan dengan mereka, kulitku hitam, rambutku keriting, terlampau kurus untuk anak sebayaku. Aku sendiri anak bungsu dari empat bersaudara, usiaku 14 tahun genap tahun ini, meski masih mempunyai orang tua, namun orang tuaku tidak mampu sehingga menitipkan ke om perawat Puskesmas mulai SD di Desa sebelah. Kebetulan puskesmas dan sekolah SMP hanya ada di desa sebelah, desaku SD aja belum ada. Menjadi “anak tinggal” di rumah dinas di rumah om perawat kadang membuatku berpikir bagaimana nasib Abah dan Mak di rumah. Aku kadangkala tak bisa manja layaknya anak bungsu seperti dirumah Abah, waktuku hanya tersisa membantu pekerjaan rumah sehari-hari om perawat dari masak, ambil air sumur, cuci piring dan mengepel lantai pagi dan sore. “Aku anak miskin” Kadang itulah yang terpikir di benakku, jadi anak tinggal layaknya pembantu saja. Kadang dongkol disuruh-suruh om perawat, padahal lagi enak-enaknya bermain. “Heemmm..rasanya aku tak tahan disini” Begitu aku menggerutu tiap hari. Setiap hari Aku bangun subuh jam 4 pagi, menimba air dari sumur Puskesmas yang berjarak 150 meter dari rumah om perawat. Ada 4 buah sumur namun hanya satu yang airnya masih banyak, yang lain sudah mengering. Aku udah 10 kali bolak-balik untuk memenuhi bak kamar mandi rumah om perawat, kadang tangan serasa mau putus bawa ember hitam ini. “Huuuh..lelah capek!!!” gerutuku geram.
“Gawat!!! Udah jam 7 nih” keherananku melihat jam dinding rumah. “Wah belum mandi lagi, PR tadi malam belum kukerjakan”.”Om perawat, gantian dong mandinya! Tamin udah mau masuk sekolah nih”.”Iya sebentar!” jawab om perawat. “Hatiku kadang dongkol, udah nimba air pagi-pagi eh airnya dihabisin om perawat seenaknya aja, mana om perawat belum masak buat makan lagi. Ahhh…alamat tak makan lagi pagi ini” Gerutuku lagi dalam hati. Biasanya tiap pagi aku hanya makan nasi dan mie rebus aja, hari ini kelihatannya aku tidak makan, hal biasa menurutku. Aku kudu cepet mandi karena harus berjalan kaki ke sekolah yang berjarak 4 km dari Puskesmas, aku tidak memakai sepatu bila ke sekolah karena disini memakai sepatu adalah hal yang mewah, kadang kaki pecah-pecah melewati aspal yang panas terkena terik matahari. Sekolah-pun dimulai jam 7.30. Pulang sekolah aku biasa berjalan kaki pulang bersama teman-teman. Sebenarnya aku sering tidak langsung pulang bila sekolah berakhir, masih pingin main-main lihat kerbau dan sawah sama teman sekolah. Desa sebelah memang berbeda dari desaku dulu, lumayan makmur dari pertanian. “Tapi aku juga harus segera pulang, kasihan lihat om perawat ntar gak ada yang bantuin ambil air dirumah” Ingatku seketika. Om perawat termasuk sudah tua untuk pengabdiannya puluhan tahun di puskesmas dan sebentar lagi masuk usia pensiun. Kadang rasa dongkol itu aku buang jauh-jauh yang datang malah rasa iba, om perawat tidak mempunyai istri dan anak. Dia senang aku temani karena membuat ramai rumah katanya bila ada aku, yang kusuka bila om perawat membelikan keperluan sekolah dan ongkos jajan bagiku. Kakak tamin yang pertama juga pernah jadi anak tinggal disini, tapi kakakku udah pindah SMA di kota.
Malam hari lampu menyala dengan genset desa meski cuma 6 jam dari jam 18.00 sampai 24.00. Makan malam dengan om perawat dengan menu andalan mie rebus dan nasi. Aku kadang menggelus dada, makan mie rebus tiap hari lagi tapi menurutku itu tidak menjadi persoalan asal ada yang mengganjal perutku. Setelah makan om perawat sering mendampingiku belajar, dia pasti tanya pelajaran yang diajar di sekolah dan pasti mengajari bila aku tak paham. Dia udah cukup tua tapi soal pelajaran SMP om perawat masih mampu menjelaskan dengan bahasa yang mudah kupahami. Kadang tamin malah udah ngantuk duluan dengar penjelasan om perawat, tak bisa berkonsentrasi karena kecapekan seharian membantu om perawat. “Tamin pingin seperti kakak Tamin om bisa sampai SMA di kota, beban berat akan Tamin pikul meski Abah dan Mak tak mampu” Celetukku kepada om perawat.”Iya nak kamu pasti bisa, ntar kamu harus sekolah tinggi. Jangan kuatir ntar om perawat akan kasih kamu biaya semampunya om.” Timpal om perawat. Mataku langsung berkaca-kaca mendengar omongan om perawat, aku sadar kadang dongkol sama dia tapi hatiku luluh barusan mendengar omongan om perawat. Aku kadang teringat kakakku dulu juga om perawat yang membiayai sampai SMA di kota. “Makasih banyak om” Ucapku dan langsung kupeluk erat dirinya.
Hikmah:
1. Meski kita membenci orang lain, pasti ada sisi baik pada orang yang kita benci.
2. Meskipun miskin, seseorang pasti masih mempunyai mimpi memperbaiki nasib keluarganya.
3. Kemiskinan tidak menjadikan seseorang patah arang untuk belajar meraih pendidikan tinggi.
4. Kasih sayang tidak mutlak harus dari keluarga kita bisa dari orang lain disekeliling kita, maka cintailah orang lain seperti anda mencintai diri sendiri.
5. Bersyukurlah bila anda sekarang menikmati pendidikan di Jawa maupun di manapun berada, tapi yang harus diingat masih banyak Tamin-Tamin lain yang terus berjuang meraih mimpi itu!!!
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp
Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
Artikel anda akan segera di catat
Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya
kasih sayang bisa dari saja datangnya. atas stempel komandan blogcamp JURI datang menilai. terima kasih atas cerita kehidupan penuh hikmah. salam hangat
Makasih bu Lely..saya masih belajar aja kok lewat nulis artikel ini
Tulisan yang menarik,membuat kita merenung…salam kenal…
@pak dhe dan yoszuaccalytt: makasih..salam kenal balik:)